Pemikiran manusia tidak terlepas dari pengaruh-pengaruh ilmu pengetahuan terhadap entitas dirinya sendiri. Seorang manusia terus dituntut untuk memahami hakekat (ontologi) kehidupannya. Ian Marshall dalam bukunya “Spiritual Capital” mencoba menarik kesimpulan atas epistemologi (cara pandang) ini. Marshall mengatakan bahwa setiap individu selalu memulai dengan proses aktualisasi diri atau pemaknaan, harga diri atau ego, dan selanjutnya melibatkan diri secara sosial. Hal yang demikian diungkapkan Marshall merupakan garis pandang dari konsep sistem adaptif kompleks manusia. Dalam hal ini, Marshall mencoba untuk meruntuhkan persepsi pemikiran humanistik model Abraham Maslow. Teori piramida kebutuhkan manusia oleh Maslow jelas menyatakan hal yang sebaliknya. Bahwa proses kehidupan manusia selalu berawal dari proses-proses pemenuhan fisiologis. Maslow kemudian cenderung mengesampingkan aspek spritual, dimana Marshall jelas terlihat lebih fokus pada aspek yang demikian.
Penulis selanjutnya akan memaparkan pandangan terkait keberadaan manusia dan agama berdasarkan pemikiran Marshall maupun Maslow. Menurut penulis, kedua teori yang diungkapkan sebelumnya mengenai proses kehidupan terbatas pada perilaku manusia. Manusia kemudian dituntut untuk bersikap dalam mempertahankan kehidupan. Penulis juga melihat hal yang demikian sebagai faktor utama manusia menentukan atau membentuk karakter kepercayaan. Dalam hal ini, manusia telah menyadari kebutuhan spiritualnya. Secara langsung manusia akan selalu membutuhkan kepuasan rohani disamping proses keberlangsungan fisiologisnya. Selanjutnya mendorong manusia untuk merumuskan pemikiran menemukan aggapan kebenaran. Manusia kemudian dinilai memiliki kecerdasan spiritual (SQ) yang mempengaruhi perilakunya dalam bertindak sesuai nilai-nilai moralitas. Nilai ini menjadi dasar dari rasio sistem kepercayaan. Dan akhirnya tergeneralisir pada sebuah agama.
Agama sebagai sistem kepercayaan lahir sebagai jawaban atas hakekat diri manusia. Merupakan kebutuhan manusia yang utama untuk mampu memaknai kehidupan. Menjaga sifat “humanistik” model Maslow untuk mencukupi kebutuhan fisiologis, agama berperan besar pada praktiknya. Menurut Marshall, kecerdasan spiritual seseorang (yang merupakan stigmatisasi agama) bahkan menjadi faktor penentu keberhasilan suatu pekerjaan. Pekerjaan pada konteks ini tentu adalah proses pemenuhan kebutuhan fisiologis. Aspek yang saling mempengaruhi ini secara jelas berdiri pada hakekat agama itu sendiri. Adapun motivasi manusia untuk hidup menjadi alasan yang paling penting bagi keberlangsungan sistem kepercayaan tersebut. Tanpa suatu sistem yang jelas atau agama, manusia tidak dimungkinkan dapat menjaga stabilitas pemikirannya.
Mempelajari agama melalui pemikiran tentang fenomena sistem kepercayaan adalah perbandingan yang sangat menarik bagi penulis. Hal tersebut dapat membawa sudut pandang baru untuk memahami esensi dari kebutuhan spiritual manusia. Kompleksitas aspek kebutuhan ini kemudian juga menjadi faktor yang sangat diperhitungkan. Terutama ketika penulis dituntut untuk melihat keberadaan sistem kepercayaan dan manusia sebagai suatu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Demikian pemaparan penulis dalam menarik kesimpulan terkait keberadaan agama dan manusia. Melalui perpektif sosial dirasakan pembahasan mengenai hakekat dan epistemologi keberadaan agama sebagai suatu fenomena dapat terjawab secara lebih luas.