Kamis, 16 Desember 2010

mas Bimbim dibalik Generasi Sidik Jari

Memulai sebuah gagasan adalah permainan dari “idea” manusia. merealisasikan sebuah gagasan menjadi tantangan. "Inilah kami, sebuah generasi yang akhirnya bergerak, tergerak dengan sendirinya. Sebagai pemeran utama, sebagai calon pemimpin bangsa ini. Bangsa yang kami percaya kelak akan menjadi bangsa yang begitu indah nya, begitu besarnya dalam sebuah keberagaman. Seperti yang di impikan oleh setiap pemuda terdahulu." setidaknya itu yang bisa gua paparkan di beberapa halaman web sebelumnya.


Untuk setiap tujuannya, generasi ini akan menjadi pelopor, penggerak, sebagai “feedback” langsung dari sebuah generasi yang berani untuk tetap merdeka dalam pendidikan, pembelajaran yang sebenarnya. Untuk belajar bebas, belajar merdeka, belajar menjadi bagian bangsa ini untuk selanjutnya tetap bisa bergerak menuju titik dimana pelajar benar-benar terlibat secara langsung dalam berkarya bagi bangsanya. Dan atas semangat ini kemudian teman-teman banyak mulai mencari "tokoh" sebagai pendukung-pendukungnya. Mulai bergerilya menuju ranah aktivis pendidikan, pemuda, perfilman, sampai musisi (seniman) menjadi pilihan dari diskusi-diskusi kami. dengan catatan, kemurnian gerakan ini yang menjadi harga mati, bentuk politik yang tidak boleh dicampuri kepentingan dan bendera "tertentu".

Mengenal sosok mas Bimbim (Bimo Setiawan) sebagai seorang pendiri grup musik Slank menjadi alasan tepat menguak idealitasnya. Seorang Kerabat memperkenalkan Bunda Iffet yang memang menjadi impian dari ketertarikan gua pada grup band fenomenal ini. Oportunis, pembicaraan harus mendalam, terutama di saat Indonesia menuntut pengakuan batik oleh dunia. Wacana hari batik sebetulnya justru menjadi penolakan bagi kami, yang menurut gua juga batik tidak relevan untuk dipertahankan dengan "pengakuan". intinya, suatu gerakan pelajar adalah gerakan belajar, berupa apapun. Yang selama ini cenderung dibataskan oleh komersialisasi didalam birokrasi pendidikan itu sendiri. Membawa gagasan Generasi Sidik Jari (GSJ) ke jalan potlot adalah momen berharga buat gua. Memulai sebuah perjalanan, membawa kami -aktivis GSJ- pada perbincangan malam dengan Bunda. Dan selanjutnya memperkenalkan kami dengan seorang mas Bimbim!

Bimbim dengan batik
Deklarasi Pelajar, Generasi Sidik Jari

                Dengan berpakaian kaos dan celana pendek mas Bimbim menyambut kami di ruang dalam Potlot. Ekspektasi kami ternyata salah, yang pada awalnya berharap mas Bimbim akan “menggurui”. Mas Bimbim justru dengan tajam mengajak kami berdiskusi. “Untuk apa semua gagasan ini?” ucapnya dengan 3 bungkus rokok Marlboro merah ditangannya. Sepertinya bungkusan rokok itu memang baru saja ia pesan. Mas Bimbim tidak memandang kami sebagai tamu, namun sebagai bagian dari  representasi generasi muda. Setidaknya itu yang kami sadari. Baik mas Bimbim dan bunda terlihat serius menanggapi kami saat itu. Mungkin karena mereka baru pertama bertemu dengan sekumpulan anak-anak muda yang “urakan” ternyata peduli dengan perubahan.

                “Kalian kan anak mami, emang berani bikin-bikin gebrakan kaya gini?” tantang mas Bimbim. Sejenak gua merasa tertampar, luar biasa reaksi mas Bimbim ketika itu. Kemudian mas Bimbim melanjutkan, “Kalo memang gak takut, gua minta konsep besok udah di email!”. Ia juga mengingatkan bahwa gagasan hanya akan menjadi gagasan , kecuali ada hal yang benar-benar terjadi. Begitupun bunda ikut mendukung dengan cara “menantang”. Yang kemudian terlintas adalah kemauan membuktikan gagasan kami. Sebuah semangat yang tidak gua dapatkan dari sebagian orang-orang hebat sekelasnya. selain mas Bimbim, banyak tokoh hebat yang tidak dapat gua paparkan satu persatu.
 
                Gua pikir, momen itu yang sebetulnya menjadi pelatuk terselenggaranya aksi Deklarasi Pelajar 2 Oktober 2009 di Tugu Proklamasi oleh GSJ. Begitu banyak inspirasi mereka yang terus melekat pada rekan-rekan aktivis ini. Tulisan ini kemudian adalah bentuk penghargaan yang kami (GSJ) mampu berikan kepada mas Bimbim, bunda, dan keluarga besar Potlot. Semangat yang mereka tularkan adalah pelajaran besar dari guru besar kita semua. Selanjutnya adalah bagaimana kita bisa terus mengenal sosok mas Bimbim. Sebagai guru dibalik Generasi Sidik Jari. Sebagai “social movement” yang memang tidak lain adalah trigger. Adalah upaya pelajar menuntut kebebasan belajar, kebebasan berkarya. Sampai hari ini GSJ telah didukung oleh begitu banyak tokoh. Di tahun 2010 tokoh paling senior yang ikut membubuhkan dukungannya adalah abang Adnan Buyung Nasution. Semoga selanjutnya GSJ tidak hanya menjadi isapan jempol belaka. Setidaknya dengan terus mengingat apa yang dimulai mas Bimbim, untuk tetap "Rock and Roll" tentunya. Kepada teman-teman aktivis GSJ, gua hanya bisa mengatakan "salut". Tanpa imbalan sepeser pun, kita masih menjaga impian.

berikut teks Deklarasi Pelajar :

prosesi pembacaan
DEKLARASI PELAJAR


Kami pelajar yang belajar, dengan ini menyatakan:


1. Pelajar harus tetap merdeka untuk pertahankan tiap maha karya sebesar bangsanya.
2. Pelajar tetap akan merdeka untuk berkarakter dengan ruang gerak seluas tanah airnya.
3. Pelajar terus akan merdeka untuk persatukan tiap keberanian bicara sekuat bahasanya.


Atas nama perjuangan, untuk pelajar yang merdeka berkarya.
Tugu Proklamasi, Jakarta 2 Oktober 2009
dibacakan oleh Marshiella

Tidak ada komentar:

Posting Komentar