Dalam tulisan ini, saya ingin memaparkan beberapa analisa saya terhadap hubungan Indonesia dan Israel berdasarkan isu-isu yang selama ini larut dalam perdebatan. Hal ini sudah sepatutnya menjadi sebuah pertimbangan atas sikap politis luar negeri Indonesia yang juga berdampak pada persepsi dan pandangan dunia. Disamping itu, Indonesia sendiri mempunyai cita-cita yang secara jelas tertulis pada pembukaan UUD 1945 untuk turut serta membangun perdamaian dunia. Mewujudkan sebuah hubungan yang harmonis menjadi tuntutan tersendiri bagi republik ini. Permasalahan yang kontroversi mengenai hubungan Indonesia-Israel terletak pada isu-isu yang berakar dari faktor fanatisme sosial, budaya, dan agama yang berbeda. Alasan tersebut mendorong berbagai penolakan maupun dukungan terhadap upaya-upaya dalam menjalin hubungan kedua negara. Lantas, bagaimana seharusnya kita menanggapi masalah ini?
Membahas hubungan Indonesia-Israel tidak lepas dari kenyataan mengenai konflik Israel-Palestina yang menjadi sorotan dunia. Berbagai isu agama dan politik menjadi penyebab pecahnya perang yang terjadi. Ketika permasalahan tersebut melibatkan isu-isu agama, Indonesia sebagai negara dengan mayoritas islam tentu mempunyai reaksi yang juga tajam dari sebagian besar masyarakat. Hal ini juga menimbulkan penolakan-penolakan keras atas terlaksananya gagasan pembinaan hubungan Indonesia-Israel. Di satu sisi, Indonesia sebagai negara non-blok pun tidak kalah penting dalam mempertimbangkan garis politiknya. Dalam pernyataan Presiden Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono, seperti yang saya kutip dari harian kompas (Rabu, 22 Juni 2010)[1] lalu, ia menegaskan posisi Indonesia yang menentang keras tindakan Israel terhadap beberapa insiden penyerangan yang terjadi di perbatasan Israel-Palestina. Presiden menilai tindakan Israel merupakan hal yang memalukan dan pantas untuk dikutuk. Hal ini tentu tidak tanpa alasan, presiden juga memaparkan bahwasanya Israel dapat dikatakan menghambat berlangsungnya peace-keeping mission yang dicanangkan United Nation (PBB).
| United Nation assembly hall |
Sebaliknya, mengutip pernyataan Muhaimin Iskandar dalam bukunya yang berjudul “Gus Dur Yang Saya Kenal : catatan transisi demokrasi kita” [2] justru mengangkat sisi keuntungan yang seharusnya dicermati dalam membina hubungan diplomatis antara Indonesia-Israel. Mantan presiden RI ke-4 ini mengingatkan kita atas esensi demokrasi, yang pada konsekuensinya kita sudah sepatutnya mengakui kedaulatan negara Israel terlepas segala latar belakang yang ada. Dimana kesetaraan dalam berbagai bangsa dan negara harus terus dijaga sebagai bentuk implementasi dari asas “pluralitas”. Perlu kita sadari bahwa hubungan Indonesia-Israel bahkan mampu menjadi kesempatan untuk memediasi konflik-konflik yang terjadi secara lebih akurat. Dimana terbukanya hubungan diplomasi Indonesia-Israel menjadi ruang komunikasi yang memungkinkan terjadinya lobi-lobi politik didalamnya. Dalam hal ini, kita dituntut untuk dapat menilai segala persoalan dengan sudut pandang yang netral (ketidakberpihakan) dengan cara membina hubungan yang efektif dan efisien, hubungan yang jelas dan akurat, hubungan yang mengedepankan solusi bagi perundingan-perundingan Indonesia-Israel.
Pada akhirnya kita dipertemukan dengan kesimpulan yang cukup sederhana. Kita sebagai negara yang turut serta dalam menjaga perdamaian dunia harus menentukan sikap politisnya. Ketidakberpihakan Indonesia dalam hal ini mencerminkan makna “Kebhinnekaan” bangsa sebagai identitas dan acuan berpolitik. Selain itu, sifat ini pun mampu menularkan “pluralisme” sehingga kemudian menjadi pertimbangan dunia pada berbagai persoalan. Melihat gagasan untuk membina hubungan Indonesia-Israel sebaiknya dapat terus diwujudkan dengan baik melalui penetapan-penetapan kedutaan Indonesia di Israel maupun kedutaan Israel di Indonesia. Mengesampingkan isu-isu agama yang terkandung di dalamnya, menjadi refleksi kritis kita terhadap political view politik luar negeri Indonesia.
[1] “Inilah Langkah Diplomasi Indonesia ke Israel”. Harian Kompas.
[2] Iskandar, Muhaimin. “Gus Dur Yang Saya Kenal”.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar