Rabu, 15 Desember 2010

Perspeksi Patung

Perspeksi Patung

Departemen Ilmu Patung, Fakultas Patung, Universitas Patung
Aku ini bermonolog, berdialog, berdebat, dan teriak-teriak!
Kadang menjilat, walaupun aku sebongkah pahatan patung
Aku tak mengenal Tuhan, dan Tuhan kemudian mengenal aku
Mengenal agamaku, mengenal Tuhanku?

Selanjutnya orang-orang banyak berdebat dan teriak-teriak!
Mengangkat senjata, merakit dan mengutuk bom
Membunuh diri sendiri. Membunuh musuh-musuhnya sendiri
Dan sering membunuh akal sehatnya sendiri
Aku tertawa.. aku ini patung yang tanpa akal
Tidak kurang dan tidak lebih, patung yang tanpa akal
Atas nama Tuhan mereka lupakan akal-akalnya
siapa mereka? yang marah-marah membabi buta
 Membiarkan babi yang tidak lagi buta!
Mereka itu mengecam. Dengan ancaman-ancaman nyata
Aku patung .. aku bukan lagi binatang babi yang buta dan tuli

Apapun itu patung, aku berdiri di atas pasir Bali
Kadang membungkuk, menyembah laut
Dan laut, yang terbahak-bahak melihat mereka
Mereka itu yang membodohi akalnya
Menjadikan Tuhan spekulasinya.. menjadi omong kosong
Mengeksploitasi perdamaian, kalau kemudian damai hanya sekedar prostitusi
Kalau kemudian damai juga hanya sebutir pil ekstasi
Aku yang jadi patung akan bungkam, selagi tidak punya banyak pilihan
Hanya ekstasi atau pecahan perang?
Aku lagi-lagi adalah patung, adalah pahatan tanpa akal sehat

Esok harinya aku bertamu pada rumah-rumah Tuhan
Aku bertamu pada rumah-rumah setan.. aku bertamu pada rumah-rumah
Apa Tuhan punya banyak rumah?
Kemudian rumah-rumahnya menjadikan bendera
Menjadi identitas, menjadi entitas, sekedar irrasionalitas
Menyulutkan permusuhan dan pecahkan perang
Menjadikan agama sebagai peluru-peluru tajam
Entah peluru karet, mungkin peluru hampa
Aku pilih tak beragama! Kutip Tuhanku laut-lautan

Dan kalian wahai persetan, aku politis
Aku tuliskan di tubuh-tubuh yang telanjang
Aku perkosa akal-akal sakit di lidah sehat mereka
Aku marah? Setidaknya aku bukan babi yang masih buta dan tuli
Lebih baik dari otak-otak binatang, karena aku tak berotak
Aku lebih senang dipanggil pelacur
Melacur perdamaian, melacur moralitas, melacurkan rasionalitas
Melacurkan diriku sendiri ini untuk Tuhan
Mungkin karena aku patung yang tak kenal Tuhan
Tuhan kemudian mengenalku, mengenal agamaku, dan mengenal Tuhanku
Tanpa perang!

Rumah pelacuran kini terkambing-hitamkan
Seolah atas nama Tuhan menjadikan rasio pembenaran
Lantaran benar dan salah adalah konsep patung
Di dalam retorika politik patung, parlemen patung
Dewan majelis patung yang terhormat...
Omong kosong bongkahan patung!



Hasfi Attila
Jakarta, 1 Desember 2010
dibacakan pada 9 Desember 2010
di Teater Kolam FISIP UI

Tidak ada komentar:

Posting Komentar