Rabu, 15 Desember 2010

old days workhouse

MY OWN WAY

Sebuah foto yang terpajang di ruang kerja kecil. tergantung diantara puluhan coretan tembok. ruang itu sering disebut "kantor". tidak tanpa alasan, kantor memang menjadi tempat banyak orang-orang dekat bersinggah. dengan kepentingan masing-masing jelasnya. mulai sekedar beristirahat sejenak, mengerjakan, menulis, melantur, dan memperdebatkan berbagai persoalan. entah sepele atau krusial.. kantor telah menjadi ruang belajar yang hebat. foto ini diabadikan dengan memotretnya melalui SLR milik kerabat Faishal Farras. apa yang menjadi sosok menarik dari foto yang entah siapa fotografer aslinya ini, akan coba gua paparkan disini. sebagai pecinta seni foto yang tidak menguasai ilmu-ilmu fotografi.

gua belajar dari foto ini, sebagai mahasiswa politik UI, sebagai pembuat film amatir, sebagai pecinta seni rajah tubuh. adalah esensi "ambisi" yang terasa pada foto ini begitu kental. seakan anak kecil itu penuh dengan kegembiraan, mungkin kejayaan untuk bisa berekspresi di tengah aktivitas "metabolisme urin" diatas. seolah dia berkata.. "I did it my way!". persis seperti lagu yang dipopulerkan seorang maestro jazz Frank Sinatra. dengan caranya sendiri anak kecil di foto itu membuang urinnya. unik! menjadi alasan gua untuk terus berani berekspresi.

semangat yang demikian kelak menjadi impian, menjadi cita-cita banyak orang. tentunya teman, sahabat, musuh, dan siapapun penghuni kantor ini. ada sebuah peraturan di kantor yang kemudian menjadi sangat mutlak. yaitu, ketidakberadaan "peraturan"! dalam hal ini, kebebasan bersekspresi mengambil bagian terpenting. apapun cara setiap orang untuk berekspresi sangat dihargai di tempat ini. kantor juga menjadi cermin besar menghadap ke wajah setiap orang yang mengenalnya, "sudahkah anda berkarya? seperti kantor". kantor tidak pernah mengenal pahala dan dosa, karena Tuhan tidak mempunya sekretariat atau "kantor"nya sendiri bukan? sehingga kantor kemudian menganggap moral adalah urusan personal setiap orang.

tidak sedikit gua temukan bentuk "sentimental" terhadap mereka, kantor. menganggap ruang kecil itu hanya sebatas ilusi belaka. sebatas tempat penuh dengan euphoria semata, tanpa karya-karya yang nyata. teman-teman kantor cenderung senang menanggapi sentimen ini. meruntuhkan paradigma memang menjadi tugas kantor, dengan berbagai inisiasi. berbagai gagasan yang pernah keluar dari pintu kantor memang tidak tercatat dan tersimpan rapi. tapi dibalik liarnya gagasan-gagasan itu, kantor tetap dikenang. tetap diingat bagi mereka, sipapun yang pernah menjadi bagian dari perputaran pola pikir kantor.

1 komentar:

  1. Banyak masyarakat indonesia yang mensorak-sorak, berkoar-koar menuntut akan adanya perubahan. Namun hanya sedikit yang melakukan tindakan untuk mencapai perubahan tersebut. Di dalam ruang yang tak terlalu besar ini saya mampu melihat bahwa generasi muda tidak hanya mampu mengeluh, tapi mereka mampu melakukan dan merealisasikan tindakan untuk pencapaian perubahan tersebut. Dan disana saya melihat banyak generasi muda yang mampu bertindak untuk perubahan. Indonesia tidak butuh ucapan dan keluhan, namun Indonesia butuh aksi dan tindakan untuk mencapai perubahan.

    Teruslah melakukan perubahan

    "I dont trust the government, at least i trust my own country"

    BalasHapus